How to Disable Auto Login to Network Share Folders

If you are sharing folders over a network, you may want these folders to be password-protected to disable auto-login. Placing a password on shared folders will allow only authorized users to access the files inside, increasing your network security. In Windows XP, you will need to set a password for the guest account to do this. In Windows Vista and Windows 7, you will need to activate password-protected sharing.

Instructions

    Windows XP

  1. 1

    Click the “Start” button and choose “Run” from the start menu.

  2. 2

    Type “command” (without quotation marks) and press the “Enter” key on your keyboard.

  3. 3

    Type “net user guest *” and press the “Enter” key on your keyboard.

  4. 4

    Type the password you would like to assign to your shared folders and press “Enter” on the keyboard.

  5. 5

    Type the password a second time to confirm and press “Enter” on your keyboard. This will place a password on your network share files and prevent users from automatically logging in to the folders.

    Windows Vista and Windows 7

  6. 1

    Click the “Start” button and choose “Control Panel” from the start menu.

  7. 2

    Choose “Network and Internet” from the “Control Panel” and then click “Network and Sharing Center.”

  8. 3

    Scroll down to the “Password protected sharing” section and click the arrow button next to the header to extend the section.

  9. 4

    Place a mark next to “Turn on password protected sharing” and then click the “Apply” button.

  10. 5

    Enter the administrator password if prompted. Now only people with a user name and password on the computer will be able to log into shared network folders.

Read More

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment

killed the felyen, sebuah band yang ada di kota Tangerang yang memuali karir dari tahun 2008 ,aliran/genre musik:metal/heppyhardcore/scremo,ka

kami ber personilkan 5 orang:

eky (vocal)

yudi(gitar)

gansar(gitar)

gio(drum)

dika(bass)

kami berawal dari perkumpulan teman di salah satu daerah di tangerang, yang diawali dengan ide sang vocalis (eky) untuk membentuk sebuah band,sedangkan sebelumnya (dika) sang bassis,sedang memiliki band bernama Look At Me yang telah berpengalaman di sebuah acara2 festival di tangerang,,,,namun karna sesuatu hal (dika) sang bassis keluar dari band tersebut,,,,sehingga bertemulah dengan (eky) vocalis,(yudi) gitaris untuk memulai sesuatu yang baru membentuk band bernama killed the felyen,,,2 tahun lamanya sudah kita berjuang untuk menentukan genre kita,,,,bertemulah dengan (gio)drumer,(gansar)gitaris. dan mendapatkan sebuah awal yang baik ya itu band yang ber aliran metal/heppyharcore/scremo….hingga kini kita sedang disibukan untuk membentuk mini album atau EP,,,,

untuk cntactperson hub :08988225750(dika)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ternyata ATLANTIS itu adalah SUMATERA (Inspirasi Plato dan Mimpi Tan Malaka)

(Inspirasi Plato dan Mimpi Tan Malaka)

“Maluku adalah masa lalu, Jawa adalah masa kini dan Sumatera adalah masa depan,”(Madilog, 1946)


Apakah yang muncul di benak Anda ketika kata Atlantis terdengar di telinga? Bagi yang sedikit mendapat pengetahuan tentu ingatannya akan tertuju ke berbagai persepsi fiksi mengenai sebuah benua dengan teknologi termaju dan kemudian hilang begitu saja dari peta dunia. Memang, sudah banyak novel maupun film yang mengutarakan Atlantis itu apa; mulai dari dimana lokasinya hingga ke asumsi-asumsi “penghilangan” benua maju itu. Salah satu pendapat umum yang beredar adalah keterkaitan penguasaan teknologi dengan kesombongan manusia itu sendiri sehingga peradaban Atlantis hancur sebagai akibat dari kesalahan manusia. Ada yang bilang kehancuran itu adalah hukuman dari Langit. Namun, dari kesemuanya itu selama ini Atlantis diyakini dunia modern (baca: Barat) terletak bukan di sini.

Pertanyaan dan pernyataan mengenai Atlantis seakan menggema kembali ketika Prof. Arysio Santos menelurkan bukunya yang terjemahannya diterbitkan bulan November lalu. Buku itu berjudul ATLANTIS-The Lost Continent Finally Found (The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization). Apa yang menarik dari buku itu adalah hasil dari penelitian selama 30 tahun yang dilakukan Geolog dan Fisikawan Nuklir Brazil itu tenyata berujung kepada sesuatu yang dekat dengan kita sesungguhnya. Atlantis, Surga yang Hilang, itu ternyata ada di Indonesia. Lokasi yang tepatnya adalah Sumatera. Pertanyaannya, di Sumatera bagian manakah Atlantis itu berada?

Atlantis dan Pulau Emas:

Prof. Arysio Santos berangkat dari satu-satunya teks modern tentang Atlantis yang dibuat oleh Plato, filsuf kenamaan Yunani. Plato menghasilkan dua “kitab” tentang Atlantis; Timaeus dan Criteas yang diyakini Prof. Santos isi buku itu sesuai dengan kondisi geografis Indonesia dulu dan sekarang. Plato dikisahkan mendapat pengetahuan tentang Atlantis melalui cerita Solon. Solon mendapatkan legenda “Surga yang Hilang” itu dari pendeta-pendeta Mesir. Sementara pendeta Mesir itu mendapatkan cerita ini dari orang-orang Hindu. Satu hal lagi yang menarik, Prof. Santos meyakini bahwa Hinduisme itu bukan berasal dari India melainkan dari Indonesia. Indonesia, bagi Prof. Santos, adalah pusat atau asal kelahiran peradaban dunia. Peradaban India, Cina, Mesir, Aztec, Inca, dll dianggap sebagai peradaban turunan dari peradaban Atlantis (Indonesia).

Prof. Santos membandingkan naskah Plato dengan epik Ramayana dan Mahabrata serta beberapa naskah Jawa kuno sebelum menyempurnakan asumsinya tentang Atlantis. Plato menegaskan Atlantis sebagai negeri tropis berlimpah mineral dan kekayaan hayati pada zaman Es Pleistosen. Plato sesungguhnya membangun kerangka-kerangka gagasannya dalam membentuk negara modern dengan menjadikan Atlantis sebagai acuan. Mimpi-mimpinya mengenai konsep dialektika, demokrasi, egaliterianisme, dan Republik justru diambil Plato dari Atlantis. Bahkan sepertinya kita menjadi sadar bagaimana konsep mimesis Plato hadir. Plato sendiri mencoba meniru konsep Atlantis dalam karya-karyanya. Sekarang, jika memang Atlantis itu memang benar adalah Indonesia, atau lebih tepatnya Sumatera, tentu Anda akan tahu di Sumatera bagian mana yang paling menjunjung apa yang dianggap Plato itu penting ada dalam peradaban modern.

Namun kemudian, semua kemegahan itu lenyap tiba-tiba tersapu bencana mahadahsyat sebagai akibat dari meletusnya Gunung Berapi Krakatau 11.600 tahun yang lalu. Letusan itu telah menciptakan gempa bumi dan tsunami yang seratus kali lebih besar jika dibandingkan dengan yang terjadi di Aceh tahun 2004. Pada masa itulah Jawa dan Sumatera menjadi pulau yang terpisah dan tenggelamnya sebagian Nusantara.

Kelahiran epik Ramayana dan Mahabarata, diyakini Prof. Santos, sangat terkait dengan kedatangan bangsa Dravida (Atlantis) ke India. Rahwana, Raja Lanka (Alengka) dari Pulau Swarnadwipa, yang digambarkan sebagai antagonis dalam epik Ramayana membuktikan “kedatangan’ bangsa Indonesia ke India. Dengan menciptakan Rahwana sebagai “musuh” dan Hanuman sebagai “penghianat bangsa Dravida”, bangsa India mengkonstruksi dan melegitimasi kekuasaan Arya-Semit di India. Hinduisme yang dibawa dari Indonesia kemudian mengalami modifikasi di sana. Oleh karena itu, setelah Atlantis tenggelam Hinduisme dari India mulai dibawa kembali ke Indonesia. Bahkan, dicurigai Sidharta Gautama itu justru adalah salah seorang Pangeran dari Nusantara. Bandingkanlah ketika di jaman Sriwijaya, justru Sumatera adalah pusat penyebaran dan pendidikan agama Budha bukan di India. Pada zaman Hindu, Sumatera itu dulunya bernama Swarnadwipa yang artinya adalah Pulau Emas. Bandingkan pula dengan sebutan Yunani untuk Sumatera; Chrisye yang berarti sama. Bahkan apa yang kini dikenal Sri Lanka itu keliru, karena Lanka yang sebenarnya adalah Sumatera itu sendiri.

Tentu asumsi-asumsi ini mesti dijajaki kembali kebenarannya. Permasalahannya adalah yang mesti kita hadapi adalah kemapanan dari peradaban Barat (Eropa) yang terlanjur sudah berurat berakar dalam metode pendidikan universal. Akan menjadi sesuatu yang berat untuk bisa merubah peta sejarah dunia. Penemuan Prof. Santos ini akan menjadi polemik panjang yang luar biasa jika “disetujui” oleh akademisi-akademisi dunia. Tak hanya sejarah nasional yang akan berubah tapi sejarah dunia. Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa siap kita untuk sebuah perubahan?

Aslia; Masa Depan Dunia?:

Konsep Aslia pertama kali dikumandangkan oleh Tan Malaka, Pahlawan Kemerdekaan Nasional kelahiran Pandan Gadang, Sumatera Barat. Tan Malaka dalam magnum opus-nya, Madilog, menyebut Aslia sebagai akronim dari Federasi Asia dan Australia. Jika Plato memimpikan Atlantis sebagai acuan utopis peradaban modern maka Tan Malaka bermimpi Aslia sebagai simbol peradaban modernnya. Kata Aslia itu sendiri sering diartikan sebagai Asia Asli atau Indonesia Asli dan sepertinya asumsi ini tak sepenuhnya salah.

Madilog ditulis oleh Tan Malaka di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta dari tahun 1942 hingga tahun 1943. Namun baru pada tahun 1946 karya agung itu diterbitkan. Kata Aslia beberapa kali muncul di dalam Madilog, padahal sebenarnya Tan Malaka sudah menyiapkan satu buku khusus tentang Gabungan Aslia namun tak sempat terbit. Dalam pandangan Tan Malaka, orang yang disebut Hamka sebagai pemikir Muslim modern terbesar Indonesia, proses teknologi adalah salah satu basis pemikiran dan cara pandang Indonesia modern yang dituangkannya dalam Madilog. Penggabungan filsafat Minang (tradisional) dan modern sangat kentara di beberapa bagian buku.

Tan Malaka menyimbolkan peradaban Indonesia modern (Aslia) itu laksana kereta api dan dengan cendekiawan Minang sebagai lokomotifnya. Aslia sebagai bentuk poskapitalis dianggap Tan Malaka memiliki level yang lebih advance jika dibandingkan dengan konsep Indonesia Asli di Zaman Besi dulu. Jika dalam konsep Minangkabau, peradaban mereka dimulai dari sekitar Gunung Merapi yang kemudian menjadi “Ibu” (heartland) yang melahirkan seluruh alam Minangkabau maka dalam konsep Aslia Tan Malaka juga memberi heartland-nya. Karakter dan posisi geografis dari Aslia cukup penting untuk kita bahas. Pusat Aslia, bagi tokoh yang disebut M.Yamin sebagai Bapak Republik Indonesia ini, terletak “segaris dengan sumbu (ekuator), dekat khatulistiwa, yang kira-kira ditentukan oleh garis Bonjol-Malaka”. Masa depan dan eksistensi federasi ini ditentukan oleh titik pusat ini. Karena dalam sejarahnya, siapapun yang bisa menaklukkan titik ini dapat menaklukkan Indonesia secara keseluruhan. Bagi Tan Malaka sendiri titik ini sangat strategis, diplomatis dan bernilai ekonomi.

Ada hal yang menarik, jika tak mau dibilang suatu kebetulan belaka, ketika Prof. Santos akhirnya menemukan titik tepat dimana “Pulau Atlantis” itu berada. “Pulau Atlantis” merujuk kepada Swarnadwipa (Pulau Emas) yang merupakan nama lain Sumatera di zaman Hindu. Di pulau inilah terdapat Istana Lanka, ibukota kerajaan Rahwana, nama lain dari imperium Atlantis. Lanka dianggap sebagai lokasi awal Meridian 00 yang tepat berada di atas pusat Sumatera; lokasi tak terbantahkan SurgaBumi. Jadi, bisa diambil pemahaman bahwa titik 0 dunia bukanlah di Greenwich. Jika kita bandingkan dengan axis Aslia-nya Tan Malaka tentu kita akan bertanya kenapa bisa sekebetulan ini lokasinya. Plato dan Tan Malaka sepertinya merujuk ke dua hal yang serupa; Sumatera.

Satu alasan yang ingin diajukan Tan Malaka dalam Madilog adalah mereformulasi slogan “Maluku adalah masa lalu, Jawa adalah masa kini dan Sumatera adalah masa depan,” menjadi “Sumatera adalah pelopor (pioneer), Jawa adalah masa kini dan masa depannya Indonesia akan kembali ke Sumatera.” Dulu ketika Tan Malaka keluar dari PKI dan Komintern (Komunis Internasional) ia mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok pada tahun 1927. Lalu kemudian pada tahun 1946 ia rubah menjadi Proletaris Aslia Republik Internasional yang bagi Tan Malaka adalah “arti luas” dari Pari.

Jika Plato melalui Prof. Santos menyanjung Sumatera sebagai Atlantis, asal peradaban dunia, dan Tan Malaka memimpikan Sumatera sebagai pusat peradaban modern dunia maka generasi muda (Sumatera) saat ini justru kehilangan mimpi-mimpi besarnya. Tanah kelahiran dirasa tak cukup signifikan dalam meningkatkan kreativitas dan standar hidup sehingga mereka berlomba-lomba meninggalkan tanah kelahirannya. Tak ada lagi pendidikan kerakyatan bermutu, tak ada lagi penerbitan-penerbitan bermutu dan kini, sayangnya, tak ada lagi pemikir-pemikir besar yang lahir dari Pulau Emas ini. Malahan baru-baru ini Kompas memberitakan sebuah penemuan bahwa di Muara Jambi ditemukan situs kuno yang jauh lebih besar diameternya daripada candi Borobudur. Kebesaran Sumatera di masa lalu mulai kembali diteliti oleh bangsa asing. Dimanakah peran kita sebagai anak muda dalam hal ini?

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3832178

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Kata orang Singapore tentang Indonesia dari Milist Tetangga :

Suatu pagi di Bandar Lampung, kami menjemput seseorang di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak.

Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat bicara gaya
melayu, english, (atau singlish) beliau menceritakan pengalaman2
hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis,
spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe..

“Your country is so rich!”

Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu..

“Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia”

“Everything can be found here in Indonesia, u don’t need the world”

“Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan,

dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia !”

“Singapore is nothing, we cant be rich without Indonesia . 500.000
orang Indonesia berlibur ke Singapura setiap bulan. Bisa terbayang uang
yang masuk ke kami, apartemen2 dan condo terbaru kami yang membeli pun
orang2 indonesia, ga peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah
rumah sakit kami, orang Indonesia semua yang berobat.”

“Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan
Indonesia masuk? Ya, benar2 panik. sangat terasa, we are nothing.”

“Kalian ga tau kan klo Agustus kemarin dunia krisis beras. Termasuk di
Singapura dan Malaysia, kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras”

“Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2.. lihatlah negara kami, air
bersih pun kami beli dari malaysia. Saya pernah ke Kalimantan, bahkan
pasir pun mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari
bersinar. Petani disana menjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik China. Dan
si pabrik menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya
sendiri”

“Kalian sadar tidak klo negara2 lain selalu takut meng-embargo
Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut
kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya
KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah dari petani2
kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri. Tak perlu
kalian impor klo bisa produksi sendiri.”

“Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, Indonesia

will rules the world..”

So, let’s we love our products,,, ^^

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perbedaan pedang Ninja dan pedang Samurai

Serupa tapi tak sama. Begitulah kedua senjata tajam khas tradisional Jepang ini. Senjata itu adalah pedang Samurai alias katana dan pedang Ninja alias Ninja To. Sekilas memang mirip, namun jika dicermati ada beberapa perbedaan secara fisik.


Perbedaan yang nyata adalah dari segi ukuran panjang. Katana lebih panjang dari Ninja To. Jika Katana umumnya berukuran panjang 70-90 cm, sedangkan Ninja To panjang 60 cm.

Dari segi bentuk, Katana lebih melengkung daripada Ninja To yang ujudnya cenderung lurus. Bahan besi kedua pedang tersebut juga memiliki warna berbeda. Katana putih mengkilat, sedangkan Ninja To warnanya kehitaman (sesuai warna Ninja) tidak mengkilat namun sama-sama tajam dengan Katana.

Di bagian gagang atau pegangan, pelindung tangan dari tebasan lawan yang dinamakan tsuba, juga berbeda. Tsuba pada Katana umumnya berbentuk bulat sementara Ninja To menggunakan tsuba berbentuk kotak.

Meski berbeda tetapi berasal dari ujud yang sama.

Ihwal sejarah Ninja To ternyata berasal dari Katana. Pedang para Ninja itu merupakan modifikasi dari Katana. Bahan pedang dipungut dari sisa perang kaum Samurai. Kemudian dipotong lebih pendek dan disesuaikan dengan keperluan para Ninja agar mudah dibawa.

Menurut San Moon, praktisi seni beladiri Ninjutsu di tanah air, bentuk Ninja To merupakan adopsi dari pedang China (pedang Tai Chi). Pedang China itu lurus kecuali golok. Pedang ninjutsu juga lurus karena gabungan ilmu Tiong Kok dan Ilmu Jepang.

Satu lagi beda kedua pedang ini. Para Samurai membawa dua pedang berselip di pinggang, satu katana dan satu lagi berukuran lebih pendek. Sementara para Shinobi alias Ninja hanya membawa satu pedang dengan penempatan diikat di punggung.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Minangkabau keturunan Yahudi?? wew,,,


B’nai Jacob (Minangkabau), Suku Yahudi yang hilang dari Sumatera Barat??

Hampir semua orang Minang percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari dataran tinggi di Sumatera yang dipimpin oleh Raja Alexander Agung atau Izkandar Zulkarnain..

Menurut Sejarah Kristen, raja tersebut hidup dari zaman 356 SM sampai 323 SM

Dia juga dikenal sebagai Raja Alexander III dari Macedonia, seorang pemimpin militer yang paling berhasil sepanjang zaman dan dianggap tidak bisa dikalahkan dalam setiap pertempuran. Di zamannya, dia sudah menguasai kebanyakan daerah yang sudah dikenal.

Ayahnya adalah Philip II yang menyatukan kebanyakan kota2 di dataran utama Yunani dalam kepemerintahan Macedonian dalam sebuah Negara federasi yang disebut Persatuan Corinth (League of Corinth)

Raja Alexander menguasai daerah2 termasuk Anatolia,Syria,Phoenicia,Judea,Gaza,Mesir
Bactria,Mesopotamia (Irak),dan dia memperluas batas2 imperiumnya sejauh Punjab,India.

Menurut AlQuran, Zulkarnain juga sempat mengunjungi China dan membantu membangun Tembok Besar China

Alexander menyatukan banyak suku2 asing ke dalam kesatuan tentaranya, yang akhirnya membuat para cendikiawan menganggap dia sebagai seorang Bapak Penyatuan. Dia juga
Mendorong pernikahan antara tentaranya dengan suku2 asing tersebut,dan dia sendiri juga menikahi 2 putri dari suku2 asing tersebut

Daerah paling terpopular yang pernah ia kuasai adalah Alexandria (Mesir) atau dalam bahasa arab Iskandariyah,dinamai sesuai namanya.

Al Quran menyebutkan Raja Alexander dalam beberapa ayat antara lain Al Kahfi 83-89

Diantara tentaranya, ada beberapa suku Yahudi yang ikut yang dikenal sebagai B’nai Jacob (Anak dari Nabi Yakub)

Hari ini,para keturunannya menyebut dirinya sebagai orang Minangkabau, yang didapat dari kata2 generasi mereka sebelumnya “Bainang Ka Yakubu” atau aslinya B’nai Yakub
(sesuai lidah generasi pertama)

Selama kunjungan Alexander ke Asia Timur,Pernikahan besar2an antara tentara Alexander dan suku asli Asia timur terjadi sesuai perintah Alexander,karena China adalah tempat yang sangat damai untuk beristirahat,dan tentu saja,karena raja tidak membawa wanita di dalam tim tentaranya.

Dan hasilnya, pria dari suku Yahudi B’nai Yakub menikah dengan wanita2 dari suku di China dan membawa kebudayaan dari masing2 adat.

Dari Cina, Raja melanjutkan berlayar ke Laut Cina Selatan dan memutari Selat Malaka menuju pantai barat Sumatera

Beberapa keluarga percampuran Yahudi-China tersebut memutuskan untuk menetap, yang lain mengambil rute lain ke India dari jalur Nepal

Ketika mereka sampai diantara pulau Siberut dan dataran utma Sumatera mereka dapat Melihat puncak Gunung Merapi.

Jika anda pergi naik Speedboat dari Pelabuhan Ikan Padang,Muara dan pergi ke Pulau Siberut, sekitar 2 jam setelah meninggalkan pulau utama, dengan cuaca yang baik,anda akan bisa melihat Gunung merapi nun jauh disana. Kelihatan mistik. Sekitar 4 jam dengan boat dari Padang ke Pulau Siberut.

Merapi adalah sebutan sekarang,kata ini diturunkan dari kata “Marave”, bahasa Aram yang berarti “tempat yang paling tinggi”

(ada lagu daerah yang terkenal yang diambil dari cerita kuno yang mengatakan “Sajak
Gunuang Marapi sagadang talua itiak.” Yang berarti “sejak Gunung Merapi sebesar telur itik)

Bahasa Aram adalah bahasa Ibu dari Bahasa Arab dan Ibrani.Bahasa ini dipercaya sebagai bahasa yang dipakai Nabi Ibrahim A.S dan dan tidak diragukan lagi begitu juga dipakai Raja Alexander juga.

Di dekat Gunung Merapi, Raja menemukan tempat yang sesuai untuk mengakhiri perjalanan. Dia meminta tentaranya yang menikah untuk memulai membuat tempat yang lebih permanent.

Dalam istilah kuno orang Minang, Kata yang berarti memulai untuk membuat tempat perlindungan adalah “taruko” yang ternyata berakar dari bahasa Aram “tarukh” atau “tarack” dan bahasa Ibrani.

Alexander kemudian wafat disana dengan damai dan dikuburkan di pemakaman mewah bernama Pariangan (Taman Pharaoh)

Hari ini,pengunjung dapat dengan mudah menemukan kuburan sepanjang 7 meter disana dan itu diyakini sebagai tempat peristirahatan raja (saya pernah mengunjungi tempat itu tapi tidak memiliki kesempatan untuk secara tepat mengukurnya)

Salah satu istri Alexander Boendo Kendon (bahasa Aram yang berarti isteri yang tercinta) melahirnkanseorang anak satun2nya yang bernama Than Kendon (bahasa Aram yang berarti Anak tercinta) atau sekarang lebih dikenal sebagai Dang Tuanku

Sebelum wafat, Alexander mewariskan satu set peraturan yang disebut Tamvo Alam (bahasa Aram yang berarti Kitab Pengakuan”) yang menjelaskan adat2 untuk rakyatnya

(Hari ini,orang Minang masih bersandar kepada buku petunjuk tersebut untuk memecahkan masalah dan kompleksitas yang terjadi di komunitas mereka)

Kitab yang sekarang disebut “tambo” menyebutkan aturan2 tertentu yang sangat tegas
Mengenai matrilinear yang juga sangat umum dipakai oleh bangsa yahudi sekarang

Aturan Matrilinear sekarang disebut sebagai Ad Tho’t,Bahasa aram untuk “kepatuhan” atau Adat.

Adat mengatur bahwa, seluruh barang termasuk harta warisan tidk terbatas hanya tanah saja,rumah dan sawah hanya boleh diberikan kepada wanita saja

Catatan:
Islam datag ke dataran Minangkabau kira2 pada abad ke 13 dang mendapatkan tentangan keras dari Kaum Adat. Ketika Ajaran wahabi datang, pada abad ke 18, sebuah kompromi terjadi antara agama dan adat Minangkabau dan dikenal sebagai Adat Basandi Syara’,Syara’ Basandi Kitabullah (adat bersendi Syariat Islam,Syariat Islam bersendi Al Quran)

Sistem Matrilinear masih menyisakan jejak2nya sampai Sekarang.Bahkan Sheikh Minangkabauwi, seoran ulama kelahiran Sumatera Barat memutuskan untuk menetap dan menjadi imam di masjidil haram di mekkah ketimbang kembali ke kampong halamannya untuk menunjukkan ketidaksukaanya terhadap system yang dia sebut kafir.

Untuk menjaga dan menyakinkan Adat benar2 menjadi pola2 perilaku Kaumnya, raja Alexander menunjuk penasehatnya yang bernama Raphael (Perpatih) dari suku B’nai Yakub dan Tun Gong (Tumenggung) dari suku China

Rafael memimpin dan menjaga kepentingan keluarga Carta (Koto) dan Phillip (Piliang) sedangkan Tun Gong memimpin keluarga Bong Ti (Bodi) dan Chan Yah Goh (Chaniago).

Setelah itu,semua keturunan Perpatih dan Tumenggung dianugrahi gelar “Datuk” yang berasal dari nama “Dan Tuanku” yang meninggal di usianya yang cukup muda

Dilihat dari kesamaan dengan atribut bangsa Yahudi seperti aturan warisan berdasarkan matrilinear dan karakternya yang berbeda dengan rata2 orang Indonesia kebanyakan, Seorang dari suku Minang tidak jarang diprediksikan sebagai “Bngsa Yahudi Indonesia”

Tapi sayang,kerabatnya di Israel mungkin tidak terlalu senang mendapat berita ini karena
Fakta menyebutkan bahwa semua orang Minang adalah umat Muslim

KITA KAN GA BISA MEMILIH ASAL MUASAL KITA……….KITA HANYA BISA MENSYUKURI APA YANG TELAH KITA RAIH SEKARANG..

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3589919

“buku negara kelima milik IS ITO”

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Roket Indonesia Getarkan Australia, Singapura, Malaysia

Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ….! Inilah musuh yang sebenarnya. Waspadailah kawan-kawan insinyur Indonesia.

Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia.

Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor. Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun.

Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member “Asian Satellite Club” bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.

Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat.

CN 235 Versi Militer
Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho” kehebatan insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah.

Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma” Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada) untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.

Nah, jadi musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa: “Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah”. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.

Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work. Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.

Roket RX-420 & CN-235 Militer:
Getarkan Australia, Singapura, Malaysia
Oleh Cardiyan HIS

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3536207

Posted in Uncategorized | 1 Comment

SOEHARTO DAN KISAH PETRUS (PENEMBAK MISTERIUS) DI ERA 1980an

Tapi dua butir peluru segera bersarang di tubuhnya. Satu di dada dan satu di kepala. Tubuhnya lalu tumbang dan dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Esok hari, bisik-bisik beredar di masyarakat. Dia adalah Robert preman yang selama ini ditakuti, sampah masyarakat, bromocorah!

Mungkin nasib Bathi Mulyono masih lebih baik. Begitu mendengar dirinya ikut menjadi target, dia segera melarikan diri hingga ke sejumlah negara luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Meninggalkan istri dan anaknya yang baru lahir. Namun, Bathi dan anaknya yang kini berusia 25 tahun, Lita, telah bertemu kembali.

Tahun 1980-an. Ketika itu, ratusan residivis, khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah, mati ditembak. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah “petrus”, penembak misterius. Tahun 1983 saja tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas ditembak. Para korban Petrus sendiri saat ditemukan masyarakat dalam kondisi tangan dan lehernya terikat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan dan kebun. Pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat keamanan.

Kala itu, para pria bertato disergap ketakutan karena muncul desas-desus, petrus mengincar lelaki bertato. Peristiwa penculikan dan penembakan terhadap mereka yang diduga sebagai gali, preman, atau residivis itu, belakangan, diakui Presiden Soeharto, sebagai inisiatif dan atas perintahnya. “Ini sebagai shock therapy,” kata Soeharto dalam biografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.

Mayat-mayat itu ketika masih hidup dianggap sebagai penjahat, preman, bromocorah, para gali, dan kaum kecu yang dalam sejarah memang selalu dipinggirkan, walau secara taktis juga sering dimanfaatkan. Pada saat penembak misterius merajalela, para cendekiawan, politisi, dan pakar hukum angkat bicara. Intinya, mereka menuding bahwa hukuman tanpa pengadilan adalah kesalahan serius. Meski begitu, menurut Soeharto, “Dia tidak mengerti masalah yang sebenarnya.” Mungkin tidak terlalu keliru untuk menafsir bahwa yang dimaksud Soeharto sebagai orang yang mengerti masalah sebenarnya adalah dirinya sendiri.

SOEHARTO dan PETRUS (Penembak Misterius)

SEBUAH autobiografi secara politis boleh dibilang merupakan usaha legitimasi. Seolah-olah penulisnya berujar, “Inilah yang sebenarnya saya lakukan dan tidak ada yang lebih benar daripada ini.” Tidak aneh jika kata-kata seperti meluruskan sejarah sering diumbar untuk mengiringi penerbitan buku autobiografi seorang tokoh. Ini berarti, kalau ada seribu tokoh, akan ada seribu pelurusan dan seribu kebenaran. Mana yang betul-betul benar? Ilmu sejarah mempunyai metode yang bisa diperiksa bersama, dan syukurlah seiring dengan itu beribu-ribu autobiografi bisa diuji kembali. Uniknya, sebuah autobiografi ternyata bisa menjadi sumbangan terhadap penulisan sejarah lewat pembuktian yang merupakan kebalikan dari maksud penerbitannya.

Periksalah, misalnya, Soeharto dengan autobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989), yang ditulis Ramadhan K.H., khususnya pada bab 69: Yang Disebut Petrus dan Hukuman Mati. Seperti diketahui, petrus adalah singkatan dari penembak misterius. Istilah ini berhubungan dengan suatu masa. Saat itu hampir setiap hari, antara tahun 1983 dan 1984, ditemukan mayat bertato dengan luka tembak. Mereka ada di pasar, sawah, dan juga jalan raya. Menurut laporan sebuah majalah berita, korban mencapai angka 10.000. Misterius tentu berarti penembaknya tidak diketahui. Tapi, apa kata Soeharto? “Kejadian itu dikatakan misterius juga tidak.”

Mayat-mayat itu ketika masih hidup dianggap sebagai penjahat, para gali, dan kaum kecu yang dalam sejarah memang selalu dipinggirkan, walau secara taktis juga sering dimanfaatkan. Pada saat penembak misterius merajalela, para cendekiawan, politisi, dan pakar hukum angkat bicara. Intinya, mereka menuding bahwa hukuman tanpa pengadilan adalah kesalahan serius. Meski begitu, menurut Soeharto, “Dia tidak mengerti masalah yang sebenarnya.” Mungkin tidak terlalu keliru untuk menafsir bahwa yang dimaksud Soeharto sebagai orang yang mengerti masalah sebenarnya adalah dirinya sendiri. Seperti apakah itu?

Dalam satu paragraf yang terdiri atas 19 baris, Soeharto menguraikan argumen bahwa kekerasan harus dihadapi dengan kekerasan. Istilah Soeharto: treatment. Ikuti caranya berbahasa dan caranya mengambil kesimpulan: “Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan.. dor.. dor.. begitu saja. Bukan! Yang melawan, mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak.” Paragraf ini segera disambung paragraf 5 baris: “Lalu, ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu.” Lantas, Soeharto memaparkan lagi: “Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu.”

Jadi, menurut pengakuannya, Soeharto sangat jijik terhadap kejahatan. Namun, apakah karena shock therapy yang dipelajarinya entah dari mana itu kejahatan memang mereda? Tanyakanlah kepada sindikat Kapak Merah. Tentang pendapat Soeharto atas kaum gali itu sendiri terdapat uraian menarik: “Mereka tidak hanya melanggar hukum, tetapi sudah melebihi batas perikemanusiaan.” Yang belakangan ini diperinci lagi: “Orang tua sudah dirampas pelbagai miliknya, kemudian masih dibunuh.” Atau juga: “….ada perempuan yang diambil kekayaannya dan istri orang lain itu masih juga diperkosa orang jahat itu di depan suaminya lagi. Itu sudah keterlaluan!” Perhatikan opini Soeharto berikut: “Kalau mengambil, ya mengambillah, tetapi jangan lantas membunuh.”

Nah, bolehkah kita menarik kesimpulan bahwa, bagi Soeharto, mengambil segala sesuatu yang bukan haknya, asal tidak keterlaluan, agaknya masih bisa ditoleransi? Kalau tidak, ia boleh dibunuh? Setidaknya, dari bab 69 ini kita mendapat beberapa ketegasan. Pertama, Soeharto mengetahui kehadiran penembak misterius. Kedua, Soeharto setuju dengan tindakan mereka membantai apa yang disebutnya “orang jahat”.
Ketiga, Soeharto berpendapat bahwa kekerasan hanya bisa diatasi dengan kekerasan. Dan keempat, bagi Soeharto, “kejahatan yang menjijikkan” merupakan kejahatan yang tidak layak mendapat toleransi. Ada dikotomi kejahatan dalam pemikiran Soeharto, yakni kejahatan “menjijikkan di luar kemanusiaan” di satu sisi dan kejahatan “tidak menjijikkan di dalam kemanusiaan” di sisi lain. Kejahatan pertama boleh dibunuh, sedang kejahatan kedua tidak usah dibunuh.

Dalam pengantar penerbit dituliskan, “Apa yang bisa dipelajari dari autobiografi ini adalah bagaimana anak seorang petani miskin dapat mencapai jenjang kepemimpinan tertinggi di negeri ini. Dan, semua itu dilakukan dengan kejujuran, ketekunan, dan ketabahan dalam menghadapi tantangan hidup ini. Semoga segala sikap dan tindakan dan cara kepemimpinan beliau dapat menjadi contoh dan teladan bagi generasi muda Indonesia yang akan mengemudikan bahtera negara di masa yang akan datang.”

Sejarah dipelajari bukan hanya untuk ketepatan data, melainkan juga untuk memetik makna. Sebuah autobiografi bisa bermakna dengan cara yang berbeda sama sekali dari maksud dan tujuan penulisannya. Di sini sebuah legitimasi tersumbangkan sebagai dekonstruksi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment